Falsafah kelembagaan, pendidikan dan pembelajaran yang dijadikan sebagai pedoman dan
dasar-dasar kehidupan serta dinamika pondok secara keseluruhan yaitu:
Falsafah Kelembagaan
- Pondok Pesantren Habiburrahman berdiri di atas dan untuk semua golongan.
- Pondok adalah lapangan perjuangan, bukan tempat mencari penghidupan.
- Pondok itu milik umat, bukan milik kiai.
Falsafah Kependidikan
Ragam kegiatan yang dilakukan oleh seluruh penghuni pondok wajib bernilai dan berisi
pendidikan. Sumbernya berpedoman pada konsep "apa yang dilihat, didengar, dikerjakan,
dirasakan, dan dialami santri sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan".
Pendidikan tidak terbatas pada proses belajar mengajar di kelas, tetapi juga di luar kelas,
termasuk berbagai bentuk penugasan, progress latihan kepemimpinan, sistem kerja kelompok,
kerja
bakti, dan beragam interaksi kehidupan di asrama yang dijalankan dalam waktu 24 jam penuh
dan
dengan pengawasan ketat.
Berjasalah tetapi jangan minta jasa. Pondok Pesantren Habiburrahman adalah ladang perjuangan
umat untuk melahirkan kader-kader pemimpin yang unggul namun tetap memiliki budi pekerti
yang
luhur.
Semua aktifitas yang dijalankan membutuhkan perhatian serius dan tidak mungkin dapat
dilaksanakan oleh orang-orang yang minim keikhlasan. Hanya nilai untuk berbuat, beramal dan
berjasa kepada pondok, masyarakat dan umat tanpa meminta imbalan yang menjadikan pondok ini
besar.
Santri tidak dididik materialistis, yaitu semua serba dihitung dengan materi, melainkan
dibangkitkan jiwanya untuk mengabdi dan berjuang di masyarakat tanpa pamrih, karena
tujuannya
adalah li i'lai kalimatillah, yaitu untuk meninggikan agama Allah SWT.
Mau dipimpin dan siap memimpin, patah tumbuh hilang berganti.
Pondok Pesantren Habiburrahman adalah tempat pendidikan kader-kader umat masa depan.
Semuanya
diperkenalkan dan ditanamkan mental "mau dipimpin dan siap untuk memimpin". Senioritas bukan
ukuran untuk menjadi orang terdepan di pesantren ini.
Profesionalitas, keilmuan, skill dan wawasan pengetahuan menjadi ukuran utama prosesi
kepemimpinan, meskipun tetap memperhatikan kultur pesantren dan nilai-nilainya.
Bentuk ragam kegiatan di pondok dikelola secara mandiri. Bersama dalam menjalankan tugas
dengan
saling menasehati dan mengutamakan asas musyawarah dan mufakat bersama. Semuanya berjalan
silih
berganti, hanya tinggal menunggu waktu dan saatnya. Sebab semua orang dituntut untuk
melakukan
proses yang sama meskipun dalam tugas-tugas yang berbeda.
Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, hidup sekali,
hiduplah yang berarti.
Pondok Pesantren Habiburrahman mengajarkan keberanian untuk hidup, dan hidup yang tidak
hanya
sekadar hidup, tetapi hidup yang bermanfaat bagi orang lain.
Bobot kaliberitas seseorang diukur dari besarnya manfaat yang dia lakukan untuk orang lain.
Pondok Pesantren Habiburrahman menekankan kepada seluruh alumni-alumninya untuk menjadi para
dai yang kaya manfaat di tengah masyarakat.
Bahkan ukuran alumni yang sukses menjadi "orang besar" adalah alumni yang mau berjuang
dengan
mengajar mengaji meskipun di sebuah mushalla kecil di pelosok desa.
Seluruh mata pelajaran harus mengandung pendidikan akhlak.
Akhlak menjadi skala prioritas dalam pendidikan di pondok. Semua yang diajarkan di dalam
kelas
secara formal harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan bukan hanya sebatas
slogan yang disampaikan di depan kelas, tetapi juga tertanam dalam aktifitas dan nafas
kehidupan.
Mulai dari kiai, para guru, dan seluruh santri harus dapat mendidik dengan akhlaknya. Maka
dari
itu, tidak boleh ada mata pelajaran yang menyimpang atau disampaikan dengan tidak menjunjung
tinggi akhlakul karimah.
In uridu illa'l-ishlah (aku tak bermaksud kecuali perbaikan) QS. Hud [11]: 87. Segala bentuk
pendidikan di pondok didasari oleh keinginan untuk memperbaiki dengan usaha yang maksimal
semampu yang dapat dilakukan.
Salah satu nilai yang mendasari dan menjiwai model pendidikan di Pondok Pesantren
Habiburrahman
adalah, bahwa seluruh aktifitas yang dijalankan bukan atas kehendak dan egoisme individu
semata.
Semuanya dijalankan untuk memberikan kebaikan bersama.
Semua cita-cita terlebur menjadi cita-cita pondok yang tertuang dalam visi dan misinya.
Nilai
kebaikan, dari berbuat baik dan usaha memperbaiki secara maksimal inilah yang menjadi nafas
pendidikan di Pondok Pesantren Habiburrahman. Maka bentuk reaksi apa pun yang timbul bukan
atas
kepentingan pribadi, semuanya didasarkan atas niatan untuk perbaikan.
Khairu-n-nas anfa'uhum li'nnas (sebaik-baik manusia adalah yang lebih bermanfaat bagi
sesama).
Nilai yang dikutip dari hadis Rasulullah SAW ini menjadi tujuan pendidikan pondok.
Setiap output Pondok Pesantren Habiburrahman adalah bagian dari kader umat yang dipersiapkan
untuk menebar kebaikan di tengah-tengah masyarakat. Dapat memberikan manfaat dan mampu
membawa
nilai-nilai positif. Serta bisa menjadi contoh terdepan masyarakat dalam kehidupan.
Sebagaimana Rasulullah SAW yang menjadi teladan bagi sekalian alam.
Pendidikan itu by doing, bukan by elips. Maksudnya bahwa pendidikan di Pondok Pesantren
Habiburrahman tidak berhenti pada penyampaian materi dan teori pelajaran. Apa yang
dipidatokan,
diceramahkan, ditulis dan diingat harus dilaksanakan dan diterapkan dalam formulasi
keteladanan.
Model ini diyakini dapat mempercepat transformasi pengetahuan dan keilmuan santri. Artinya
semua informasi yang didapatkan diingatkan kembali dalam laboratorium kehidupan, sehingga
merasuk dalam sanubari dan diingat bukan hanya dengan pikiran semata, tetapi tertanam dalam
hati.
Labuh bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane (mengorbankan harta, tenaga, pikiran, kalau
perlu nyawa sekalian). Perjuangan butuh pengorbanan. Tidak ada perjuangan yang hanya
dilakukan
tanpa pilihan.
Memilih untuk belajar di Pondok Pesantren Habiburrahman adalah awal perjuangan yang tertanam
dalam jiwa santri. Semboyan "ke Pondok Pesantren Habiburrahman apa yang kamu cari?"
menghapus
niat, keinginan, dan kepentingan lainnya kecuali hanya menuntut ilmu.
Bukan agar bisa berbahasa, mampu menjalankan ibadah harian, atau ingin mendapatkan kebesaran
nama almamater saja. Bisa saja semuanya itu didapatkan, tetapi yang paling utama adalah
keilmuan.
Berbuatlah melebihi apa yang telah diperbuat oleh para pendahulu. Pondok Pesantren
Habiburrahman menekankan bahwa setiap santri harus bisa lebih baik dari para guru-gurunya.
Penerus generasi saat ini harus bisa melebihi para pendahulu-pendahulunya.
Tokoh-tokoh sukses Islam membangkitkan semangat kompetisi yang besar bagi para santri untuk
bisa
mengikuti prestasi dan kesuksesan tokoh tersebut. Tapi itu bukan tujuan utama, yang lebih
penting adalah bahwa kesuksesan tersebut hanya bagian dari jalan untuk memperluas dan
mengokohkan jalan dakwah dalam membela agama Allah SWT.
Hanya orang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti perjuangan.
Semua
kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Habiburrahman wajib dipahamkan kepada seluruh
pelaksananya.
Sehingga semua mengetahui dasar dan tujuan pelaksanaan acara dengan baik. Fungsinya
mengajarkan
untuk menjiwai peranan dan menyadarkan bahwa suksesi perjuangan apa pun adalah sinergi
kepentingan-kepentingan individu yang dijalankan bersama dalam satu wadah organisasi.
Peranan
apa pun harus dianggap penting sesuai dengan porsi dan kapasitasnya.
Falsafah Pembelajaran
Falsafah pembelajaran yang menjadi dasar dan pedoman dalam mentransformasikan sistem
pendidikan
dan pembelajaran di Pondok Pesantren Habiburrahman adalah sebagai berikut:
-
Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru
lebih penting daripada guru itu sendiri.
-
Jiwa guru adalah skala prioritas dan indikator utama dalam menilai keberhasilan
pendidikan.
Penggunaan materi, metode, dan sarana penunjang lainnya hanya alat penunjang
keberhasilan.
-
Sebab materi bisa saja direvisi setiap waktu, metode bisa berubah kapan saja, namun guru
yang menjiwai sepenuh hati dalam mendidik dan mengajar tidak akan tergantikan.
-
Pondok memberi kail, tidak memberi ikan. Peserta didik dituntut untuk aktif berusaha
mendapatkan ilmu dan pengetahuan secara mandiri.
-
Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.
-
Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk ibadah dan amal.
-
Pelajaran KMI mencakup agama 100% dan umum 100%.